Senin, 10 Januari 2011

KONSELING, TEORI DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PROBLEM SOLVING DI SEKOLAH

A. Pengertian Konseling
Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan”
…interaksi yang(a)terjadi antara dua orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien. (Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer & Stone,1974)
…suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tetang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
(Smith,dalam Shertzer & Stone,1974)
Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi)
…suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan. (Mc. Daniel,1956)
Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969)
Hal-hal pokok yang terdapat pada pengertian Konseling menurut ahli yang tersebut diatas adalah:
Rumusan (Pepinsky & Pepinsky,dalam Shertzer & Stone,1974)
1. Konseling adalah suatu proses interaksi antara dua orang individu,masing-masing disebut konselor dan klien.
2. Dilakukan dalam suasana yang profesionalBertujuan dan berfungsi sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien.
Rumusan (Smith,dalam Shertzer & Stone,1974)
1. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan
2. Bantuan diberikan dengan meng interpreswtasikan fakta-fakta atau data,baik mengenai individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya,khususnya menyangkut pilihan-pilihan,dan rencana-rencana yang dibuat.
Rumusan (Division of Conseling Psychologi)
1. Konseling merupakan proses pemberian bantuan
2. Bantuan diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangan.
Rumusan (Mc. Daniel,1956)
1. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien.
2. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitanyang dihadapi.
3. Tujuan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaiaknnya dirinya,baik dengan diri maupun dengan lingkungan.
Berdasarkan Rumusan diatas maka yang dimaksud dengan Konseling adalah:
“Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara Konseling oleh seorang ahli (disebut Konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dialami oleh klien

B. Macam-macam Teori Konseling dan Pengembangannya dalam problem Solving di Sekolah
1. Konseling Ego
Konseling ego dipopulerkan oleh Erikson. Konseling ego memiliki ciri khas yang lebih menekankan pada fungsi ego. Kegiatan konseling yang dilakukan pada umumnya bertujuan untuk memperkuat ego strength, yang berarti melatih kekuatan ego klien. Seringkali orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki ego yang lemah. Misalnya, orang yang rendah diri, dan tidak bisa mengambil keputusan secara tepat dikarenakan ia tidak mampu memfungsikan egonya secara penuh, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meraih keinginannya. Perbedaan ego menurut Freud dengan ego menurut Erikson adalah: menurut Freud ego tumbuh dari id, sedangkan menurut Erikson ego tumbuh sendiri yang menjadi kepribadian seseorang.
Proses Perkembangan Kepribadian
Erikson membagi atas empat tahapan sebagai berikut:
• Ego berkembang atas kekuatan dirinya sendiri.
• Pertumbuhan ego yang normal adalah dengan berkembangnya keterampilan anak dalam berkomunikasi. Karena melalui komunikasi individu dapat mengukur dan menilai tingkah lakunya berdasarkan reaksi dari orang lain.
• Perkembangan bahasa juga menambah keterampilan individu untuk membedakan suatu objek dalam lingkungan dengan bahasa individu mampu berkomunikasi dengan orang lain.
• Kepribadian individu berkembang terus menerus melalui proses hubungan dirinya dengan dunia luar atau lingkungannya (adanya keterkaitan antara hubungan yang satu dengan yang lain).
Dalam berkomunikasi dengan lingkungannya ada empat aspek yang perlu diperhatikan yaitu:
• Individu belajar membedakan suatu objek dengan objek yang lainnya.
• Individu harus bisa melibatkan diri dengan lingkungan yang spesial yang makin lama makin meluas dan makin mendalam.
• Proses sosialisasi, maksudnya adalah berhubungan dengan orang lain, dengan adanya hubungan dengan orang lain individu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya.
• Perkembangan kepribadian yang baik apabila kepribadian itu mengarah kepada pembentukan “coping behavior”. Coping behavior adalah kemampuan atau tingkah laku individu yang dapat menangani suatu masalah secara tepat dan hasilnya baik. Agar coping behavior berdaya guna, harus memiliki dua ciri sebagai berikut:
• Coping behavior merupakan pola-pola tingkah laku yang tertata dengan baik melalui beberapa tahapan yang benar, terstruktur dan bermakna. Contohnya apabila seorang mahasiswa membutuhkan sebuah buku dan hanya satu di perpustakaan, dia meminjam untuk difoto copy terlebih dahulu atau mencatat hal yang penting dari buku tersebut.
• Tingkah laku yang mengandung coping behavior dilakukan secara sadar dan impulsif.
Coping behavior merupakan konsep yang pokok dalam konego dan salah satu tujuan dari konego adalah pembentukan coping behavior pada diri klien. Sedangkan yang menjadi tujuan akhir perkembangan kepribadian adalah terbentuknya coping behavior secara otomatis.
Fungsi Ego
Fungsi ego dalam diri individu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
• Fungsi dorongan ekonomis; fungsi ego ini menyalurkan dengan cara mewujudkan dalam bentuk tingkah laku secara baik yaitu yang baik dan dapat diterima lingkungan, berguna dan menguntungkan baik bagi diri individu sendiri maupun orang lain di lingkungannya.
• Fungsi kognitif; berfungsinya ego pada diri individu untuk menerima rangsangan dari luar kemudian menyimpannya dan setelah itu dapat mempergunakannya unuk keperluan coping behavior. Dalam hal ini individu mempergunakan kemampuan kognitifnya dengan disertai oleh pertimbangan-pertimbangan akal dan menalar.
• Fungsi pengawasan; disebut juga dengan fungsi kontrol, maksudnya tinglah laku yang dimunculkan individu merupakan tingkah laku yang berpola dan sesuai dengan aturan. Secara khusus fungsi ego ini mengontrol perasaan dan emosi terhadap tingkah laku yang dimunculkan.
Perkembangan Tingkah Laku Salah Suai
Munculnya tingkah laku salah suai pada diri seseorang disebabkan oleh tiga faktor, yaitu:
• Individu di masa lalunya kehilangan kemampuan atau tidak diperkenankan merespon rangsangan dari luar secara tepat sehingga pada saat sekarang menjadi salah suai dalam bertingkah.
• Apabila pola coping yang sudah terbina pada dirinya sekarang tidak sesuai lagi dengan situasi sekarang.
• Fungsi ego tidak berjalan dengan baik, saat bertingkah laku salah satu fungsi ego atau ketiga-tiganya tidak berfungsi dengan baik, misalnya individu tersebut tidak mempertimbangkan untung ruginya dalam bertingkah laku, kurang memanfaatkan pikiran atau kurang mengontrol perasaan, sehingga menjadi sorotan dari lingkungan dan tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi individu.
Tujuan Konseling
Adapun tujuan konseling menurut Erikson adalah memfungsikan ego klien secara penuh. Tujuan lainnya adalah melakukan perubahan-perubahan pada diri klien sehingga terbentuk coping behavior yang dikehendaki dan dapat terbina agar ego klien itu menjadi lebih kuat. Ego yang baik adalah ego yang kuat, yaitu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan dimana dia berada.
Proses Konseling
Beberapa aturan dalam konseling ego yaitu:
• Proses konseling harus bertitik tolak dari proses kesadaran.
• Proses konseling bertitik tolak dari asas kekinian.
• Proses konseling lebih ditekankan pada pembahasan secara rasional.
• Konselor hendaknya menciptakan suasana hangat dan spontan, baik dalam penerimaan klien maupun dalam proses konseling.
• Konseling harus dilakukan secara profesional.
• Proses konseling hendaklah tidak berusaha mengorganisir keseluruhan kepribadian individu, melainkan hanya pada pola-pola tingkah laku salah suai saja.
Teknik-Teknik Konseling
Adapun teknik-teknik dalam konseling ego adalah:
• Pertama-tama konselor perlu membina hubungan yang akrab dengan klien.
• Usaha yang dilakukan oleh konselor harus dipusatkan pada masalah yang dikeluhkan oleh klien, khususnya pada masalah yang ternyata di dalamnya tampak lemahnya ego.
• Pembahasan itu dipusatkan pada aspek-aspek kognitif dan aspek lain yang terkait dengannya.
• Mengembangkan situasi ambiguitas (keadaan bebas dan tak terbatas) yang dapat dibina dengan:
• Konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memunculkan perasaan yang ada dalam dirinya.
• Klien diperkenankan mengemukakan kondisi diri yang mungkin berbeda dengan orang lain.
• Konselor menyediakan fasilitas yang memungkinkan terjadinya transference melalui proyeksi. Pribadi yang transference adalah pribadi yang mengizinkan orang lain melihat pribadinya sedangkan proyeksi adalah mengemukakan sesuatu yang sebetulnya ada pada diri sendiri.
• Pada saat klien transference, konselor hendaknya melakukan kontra transference.
• Konselor hendaknya melakukan diagnosis dengan dimensi-dimensinya, yaitu:
• Perincian dari masalah yang sedang dialami klien saat diselenggarakan konseling itu.
• Sebab-sebab timbulnya masalah tersebut, bisa juga titik api yang menyebabkan masalah tersebut menyebar.
• Menentukan letak masalah, apakah pada kebiasaan klien, cara bersikap atau cara merespon lingkungan.
• Kekuatan dan kelemahan masing-masing orang yang bermasalah.
• Membangun fungsi ego yang baru dengan cara:
• Dengan mengemukakan gagasan baru
• Berdasarkan diagnosis dan gagasan tersebut diberikan upaya pengubahan tingkah laku
• Pembuatan kontrak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang telah diputuskan dalam konseling.
Langkah-Langkah Konseling
Adapun langkah-langkah dalan penyelenggaraan konego adala:
• Membantu klien mengkaji perasaan-perasaannya berkenaan dengan kehidupan, feeling terhadap peranannya, penampilan dan hal lain yang terkait dengan tugas-tugas kehidupannya.
• Klien diproyeksikan dirinya terhadap masa depan. Dalam hal ini konselor mendiskusikan tujuan hidup masa depan klien, sekaligus potensi-potensi yang dimilikinya. Konselor membawa klien agar mampu melihat hubunagn yang signifikan antara masa depan dan tujuan hidup klien dengan kondisinya di masa sekarang.
• Konselor mendiskusikan bersama klien hambatan-hambatan yang ditemuinya untuk mencapai tujuan masa depan.
• Konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya. Selanjutnya konselor berusaha agar klien melihat hubungan antara perasaan perasaannya tadi dengan tingkah lakunya.
• Konselor membantu klien menemukan seperangkat hasrat, kemauan dan semangat yang lebih baik dan mantap dalam kaitannya dengan hubungan sosial. Kalau memungkinkan konselor melatihkan tingkah laku yang baru.

2. Teori Self (Rogers)
Terdapat sejumlah konsep-konsep dasar dalam literature psikologi yang selama bertahun-tahun mendukung teori self. Diantara begitu banyak teori self, kita dapat menemukan konsep-konsep yang dikemukakan oleh Snygg and Combs, Sarbin, Mead, dan Koffka.namun tidak ada diantara mereka yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan teori self sebagaimana yang dilakukan oleh Carl Rogers. Hampir memiliki kasus yang sama dengan Freud gagasan yang dikemukan oleh Carl Rogers memiliki pengaruh besar dalam bidang konseling. Meskipun pada waktu yang bersamaan juga telah memunculkan berbagai kontroversi. Pada bukunya Counseling and Psychotherapy tahun 1942. Rogers terlihat mempunyai keinginan yang demikian kuat untuk membangun individu dengan harapan setiap orang akan dapat terbebas dari rasa cemas sehingga dapat hidup nyaman ditengah masyarakat.
Perkembangan kepribadian menurut teori ini adalah sebagai berikut:
a. Organismic Valuing Process ( OVP), yaitu proses mendapatkan nilai-nilai positif dan negatif itulah yang dinamakan OVP. Dalam OVP nilai-nilai tidak pernah bertahan tetap pada diri seseorang, karena nilai-nilai tersebut secara berkesinambungan akan mengalami perubahan sesuai dengan pengalaman yang tersimbolisasi secara akurat.
b. Positive Regard From Others (PRO)
Positive Regard From Others adalah kondisi dimana individu memulai menerima nilai-nilai dari orang lain dibandingkan dengan nilai-nilai yang ia miliki, inilah yang akhirnya membentuk evaluasi cara berfikirnya berdasarkan perilaku yang dinilai orang lain.
c. Self Regard (SRG)
orang lain tanpa memperdulikan nila-nilai itu memuaskannya atau tidak. Seorang mulai membangun penghargaan untuk dirinya sendiri berdasarkan persepsinya terhadap penghargaan yang ia terima dari orang lain. Seseorang mulai mengendalikan perilakunya baik atau buruk karena memperhatikan nilai-nilai yang dimiliki
d. Condition Of Worth (COW)
Individu memberikan nilai-nilai positif terhadap pengalaman yang tidak memuaskannya dan dia memberikan nilai-nilai negatif terhadap pengalaman yang memuaskan dirinya. Contoh nilai positif yang tidak menyenangkan “anak yang memukul teman akibatnya dia dimarahi guru, dia tidak senang dimarahi tapi dari peristiwa itu dia mendapatkan nilai-nilai positif bahwa tidak boleh memukul orang.
e. Kondisi-kondisi agar seseorang mengalami perkembangan normal
Kondisi-kondisi yang membentuk perkembangan kepribadian normal adalah individu secara terus menerus mengalami pengalaman positif berdasarkan penilaian dari orang lain. Misalnya ”jika seorang anak selalu merasa dicintai oleh lingkungannya walaupun lingkungan atau keluarganya itu tidak bisa menerima beberapa perilaku si anak tadi”. Jika individu terus menrus dievaluasi secara positif oleh lingkungannya maka individu ini akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat”.
Tujuan Konseling
a. Tujuan konseling ditentukan oleh klien.
b. membantu klien menjadi lebih matang dan kembali melakukan self actualization sehingga ia dapat melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan seluruh hambatan-hambatan bagi kemajuan dirinya.
c. Membebaskan klien dari kungkungan tingkah laku yang dipelajarinya selama ini yang membuatnya dirinya palsu dan terganggu dalam self actualization.
Proses Konseling
a. Kondisi-kondisi penting dalam proses konseling
o Kontak psikologis dengan klien
o Meminimalisasikan tingkat kecemasan klien
o Konselor harus tampil apa adanya
o Konselor memberikan penghargaan yang tulus
o Konselor harus empati dan mengerti keadaan klien
o Konselor mampu merubah persepsi klien

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar